RSS

Rabu, 25 November 2009

Orangtua Harus Berani Menghadapi Anak yang Marah / Ngambek


Kini makin banyak orangtua yang takut anaknya marah. Malah ada yang tidak menegakkan peraturan karena takut anaknya. Berikut ini contoh kasus yang mungkin juga dialami keluarga kita.Siang itu Pak Johan sangat jengkel dan ingin marah, tetapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Tidak satu pun orang di kantor yang patut ia marahi. Ia baru saja menerima telepon dari rumah dan tiba-tiba hatinya jadi kesal.Sebenarnya ia tahu persis bahwa yang menyebabkan kemarahannya adalah Alex, anak laki-lakinya. Pagi tadi ketika Pak Johan sedang bersiap-siap berangkat ke kantor, Alex menghadang di pintu kamar Pak Johan. Dengan wajah kusut karena baru turun dari tempat tidurnya, ia mengatakan pada Pak Johan bahwa siang nanti ia bersama dua temannya akan pergi ke Lampung bersepeda motor. Katanya ia sudah memberitahu ibunya tadi malam, dan ia minta agar Pak Johan memberinya bekal uang Rp300 ribu rupiah. Terus terang Pak Johan tidak setuju, dan terjadi perdebatan yang agak keras. Pak Johan sempat marah karena menganggap pemberitahuan Alex sangat mendadak. Alasan kedua, karena tidak jelas apa yang akan mereka lakukan di Lampung, dan samping itu saat untuk kembali masuk sekolah sudah mendekat. Sebagaimana biasanya Alex tidak pernah menyerah, dan entah bagaimana pagi itu Pak Johan akhirnya meminta Bu Johan untuk memberikan uang sebesar yang diminta. Dan sambil mengomel sendiri ia berangkat ke tempat kerja.Bu Johan mencemaskan keselamatan anaknya. Ia pun kurang senang karena anaknya akan bepergian dengan teman-teman yang bukan dari sekolahnya. Pertemuan itu pun menimbulkan perdebatan panjang, yang berakhir dengan komentar Bu Johan: “Terserahlah, Ibu sudah tidak bisa mengatur kamu sama sekali. Kalau berani minta sana sama ayahmu.” Nampaknya kekhawatiran dan keberatan sang Ibu tidak menjadi halangan bagi Alex untuk menemui ayahnya, terutama untuk mendapatkan bekal uang, esok paginya. Hari itu setelah makan siang, dan berpamitan pada ibunya, Alex berangkat dengan kedua temannya. Ia tak lupa menelepon ayahnya di kantor.Lebih KritisAlex bukan anak tunggal keluarga Pak Johan. Masih ada dua adik lainnya yaitu Lila dan Denny. Tidak hanya dalam menghadapi Alex, Pak dan Bu Johan merasa kewalahan (hilang akal). Mereka juga menemui kesulitan ‘mengendalikan’ Lila.Rasa kewalahan yang dialami Pak dan Bu Johan terutama makin meningkat setelah kedua anak tersebut menginjak remaja. Mereka kadang-kadang khawatir atas sikap mereka yang terlalu permisif (mudah meluluskan permintaan, mudah toleran), tidak tegas dan kurang dihargai anak. Tetapi dalam kenyataannya mereka tidak sanggup mengalahkan kekhawatiran itu dengan mengubah sikap mereka. Dalam sebuah kesempatan berkumpul dengan sesama orangtua, Bu Johan sempat mengatakan bahwa ia takut kepada anak-anaknya karena mereka sudah lebih pandai berargumentasi. Anak-anak sekarang lebih pandai dan lebih kritis. Ia sering merasa tidak yakin bahwa nasehat dan larangannya akan didengar dan dipatuhi, karena beberapa kali sudah menjadi kenyataan. Jadi ia lebih banyak menurut saja. Sedangkan Pak Johan seperti juga beberapa orangtua lainnya punya perasaan bingung dengan metoda mendidik anak sekarang ini. Dicoba dengan cara permisif dan sikap berkawan ternyata mereka jadi lebih berani membantah atau menentang dilarang. Dicoba dengan cara keras dan tegas, mereka berontak.Pak Johan betul-betul bingung, dan akhirnya lebih banyak mengalah, dan seterusnya marah karena menyesal, buntut-buntutnya menyalahkan diri sendiri.Mengandung RisikoPengalaman nyata juga terjadi pada Bu Herti yang tidak berani melarang anak perempuannya, Manda. Beberapa bulan terakhir ini Manda mulai berpacaran dengan teman sekelasnya, Boyke. Mereka masih duduk di kelas 2 SMA. Bu Herti mengeluhkan masalah ini kepada Riri sahabat Manda dan meminta Riri menegur dan menasehati Manda. Bu Herti sangat cemas karena konsentrasi Manda kepada pelajaran mulai menurun tajam. Dikatakannya pada Riri bahwa kalau sampai ia yang harus menegur anaknya, nanti terjadi keributan. Tentu Riri heran. “Kalau ibunya sendiri saja takut menegur anaknya, apalagi saya. Jangan-jangan Manda bisa menuduh saya iri atau ikut campur urusan pribadinya? Wah, saya enggak mau kehilangan teman”, begitu komentar Riri waktu ia menceritakan kepada ibunya tentang permintaan aneh Bu Herti.Nampaknya tidak sedikit orangtua yang mempunyai keluhan senada. Ini menunjukkan bahwa mereka menilai diri tidak mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Di manakah letak kesalahannya?Besar kemungkinan orangtua takut atau ragu melakukan tindakan pada anak karena mereka takut mengambil risikonya. Pak dan Bu Johan takut kalau Alex dilarang, ia akan kabur dari rumah atau akan melakukan perbuatan lebih buruk.Bu Herti takut kalau ia bicara dan melarang Manda pacaran, Manda akan berbalik nekad atau sembunyi-sembunyi, dan bisa-bisa tidak naik kelas. Padahal setiap tindakan dalam upaya mendidik pasti mengandung risiko.Tidak ada usaha tanpa risiko kalau kita ingin mencapai sesuatu. Namun, ada risiko yang layak diambil, dan ada resiko yang wajib dihindari. Ambil contoh orang yang bimbang dipersimpangan jalan, padahal lampu sudah berganti hijau. Dalam keadaan begini ia harus segera jalan. Jangan takuti risiko bahwa arah yang diambilnya bisa salah. Sebab, kesalahan itu tidak akan menimbulkan aibat fatal, dan bisa segera dikorekasi. Berbeda dengan orang yang harus mempertimbangkan akibat penggunaan obat tertentu. Salah-salah nyawa bisa melayang. Ini situasi yang risikonya wajib dihindari.Belajar KecewaAnak ngambek adalah risiko yang layak diambil karena masih mudah diperbaiki. Yang harus dihindari adalah anak menggunakan narkoba atau melakukan hal-hal lain yang membahayakan masa depannya. Maka orangtua patut secara tegas melarang perbuatan anak yang jika dibiarkan akan menjerumuskan mereka ke kehancuran. Jangan takut bahwa anak akan ngambek, karena ngambeknya anak akan mudah diatasi. Anak bahkan harus diajar untuk sekali-kali kecewa, tanpa kehilangan ‘kepercayaan’ bahwa orangtua tidak bermaksud mencelakakan anaknya. Kesadaran ini yang harus ditanamkan orang tua pada anak. Setelah anak percaya bahwa orang tua mencintai mereka, anak tidak akan tahan untuk berlama-lama memusuhi orang tua. Ingat saja bahwa sebagian besar orang didunia ini pasti pernah dihukum orang tuanya, tetapi tetap menghargai mereka. Sebaliknya, orangtua yang takut atau ragu-ragu bertindak tegas justru akan menghadapi risiko yang lebih besar lagi dikemudian hari, baik untuk anak maupun orangtua itu sendiri.

Sabtu, 14 November 2009

Mengapa PPG diperlukan?

Banyak orang tua yang mengeluh bahwa mendidik anak jaman sekarang itu tidak gampang, bahkan dirasakan jauh lebih sulit dari pada mendidik anak-anak jaman dulu. Hal ini tidak sepenuhnya salah, walaupun sebenarnya setiap masa itu ada tantangannya sendiri sesuai jamannya. Mendidik anak di jaman sekarang ini memang bisa dibilang tidak mudah. Generasi anak yang kita didik sekarang ini oleh ahli psikologi dinamakan generasi Millenium dan generasi Platinum, generasi ini sangat berbeda dengan generasi kita dahulu. Itulah sebabnya para ahli pendidik dan juga ulama bahu membahu berusaha mengawal generasi penerus Qur’an Hadits sekarang ini agar berkembang secara optimal demi melanjutkan perjuangan Qur’an Hadits dan untuk mendapatkan kemulian di Surga, sehingga dibentuklah tim Penggerak Pembina Generus(PPG).
Faktanya memang anak jaman sekarang pasti berbeda dengan anak jaman dulu. Beda dalam segala hal. Jadi kita tidak bisa begitu saja membandingkan keadaan kita dulu sewaktu dididik oleh orang tua kita dengan anak-anak kita jaman sekarang.
Setidaknya ada 3 perbedaan pokok anak-anak jaman sekarang dibandingkan dengan anak-anak generasi terdahulu :
Kemampuan Berpikir
Anak-anak jaman sekarang pada umumnya memiliki kemampuan berpikir yang lebih kritis dalam usia yang lebih awal. Mereka berkembang dalam jaman yang memberi mereka banyak keleluasaan dan stimulasi yang jauh lebih banyak, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang seperti itu. Mengapa kita perlu mengetahui hal ini? Yaitu agar kita siap menghadapinya. Karena sebagian orang tua yang tidak siap menjadikan hal ini sebagai suatu kesulitan. Akhirnya yang muncul adalah pemikiran negatif terhadap anak, misalnya dibilang anaknya suka berdebat, nggak mau kalah, pandai berargumentasi, dan sebagainya. Padahal itu semua adalah hal-hal positif yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir anak itu sangat bagus.
Cara Pandang
Anak-anank jaman sekarang seringkali memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita, sehingga pada akhirnya mereka sering beradu argumentasi dengan orangtuanya. Kita para orang tua umumnya terbiasa pada pola pendidikan tradisi yang polanya yang sudah terbentuk. Mungkin mirip seperti kacamata kuda. Misalnya setiap ada persoalan A jawabnya pasti B, persoalan C jawabnya D dan seterusnya. Anak-anak kita tidak lagi berpikir demikian. Mereka kalau melihat sebuah persoalan bisa luas sekali analisisnya. Hal ini sering kali membuat orang tua menjadi tersinggung karena seolah-olah merasa digurui. Orang tua selama ini selalu punya tradisi pemikiaran bahwa mereka selalu lebih dibanding anak-anak kita, dan kita kaget ketika melihat anak-anak kita ternyata punya argumentasi yang jauh lebih luas sudut pandangnya. Ini perlu kita sadari supaya kita siap, dan bersyukur karena memiliki anak-anak dengan wawasan yang luar biasa. Bukannya malah kita merasa dipermalukan atau merasa direndahkan, atau merasa dipandang bodoh oleh anak kita. Justru kita harus bangga memiliki anak-anak seperti itu.
Keberanian untuk Mengungkapkan Pendapat
Ada sebuah pergesaran tradisi pada anak-anak generasi sekarang. Kalau dulu pada umumnya kita takut-takut untuk mengungkapkan pandapat, terutama kepada orang tua. Mungkin karena bangsa kita lama dijajah, maka budaya yang berkembang adalah budaya otoriter. Akhirnya budaya ini terbawa sampai ke rumah tangga sehingga orangtua memiliki otoritas yang luar biasa terhadap anaknya dalam banyak hal : dalam menyatakan pendapat, dalam mengambil keputusan, dal sebagainya. Sehingga ketika si anak memiliki argumentasi, maka ia akan lebih memilih untuk diam. Itu semua terjadi pada jaman kita dulu ketika dididik oleh orang tua kita. Jaman anak-anak kita sekarang ini tidak lagi seperti ini. Kita mulai melihat ada pemberontakan-pemberontakan kepada gurunya di sekolah. Padahal jaman kita dulu, kepatuhah kepada guru itu luar biasa. Hal ini menjadikan sebuah generasi yang patuh. Padahal di dalam kehidupan sehari-hari yang dibutuhkan adalah kreatifitas, penuh daya cipta, penuh argumentasi, punya car pandang yang luas, dan sebagainya. Jadi sebenarnya anak-anak kiat sekarang ini sedang menuju kepada kondisi yang sesuai dengan kebutuhan jamannya. Cuma karena kita dulu dibesarkan di jaman yang berbeda dan kita sering membandingkan dengan cara kita dididik dulu, maka kita sering kali “menahan” perkembangan anak-anak kita untuk tidak ke arah seperti itu. Hal ini terjadi karena kita sering kali punya kebiasaan untuk membandingkan anak-anak kita dengan kita di jaman dulu. Harus kita ingat bahwa anak-anak kita telah tumbuh sesuai dengan kebutuhan jamannya.tugas kita adalah membimbing mereka supaya tidak salah jalan. Mereka sebenarnya telah berjalan ke arah yang sesuai. Kita para orang tua harus mulai belajar untuk menerima perbedaan-perbedaan ini.
Apa yang membuat anak-anak kita menjadi begitu berbeda?
Kita para orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, tapi sering kali kita tidak mau menerima efeknya, bahkan ketika kita tahu bahwa efeknya adalah positif. Kenapa anak-anak kita berbeda? Menurut sebuah penelitian, diantara penyebannya adalah :
Perkembangan Teknologi Media
Perkembangan teknologi media yang sangat pesat sekarang ini akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Coba bandingkan dengan kondisi jaman kita dulu : belum ada internet, stasiun TV cuma satu, nulis surat harus dikirim lewat pos, perlu waktu. Sekarang beragam informasi bisa diakses dengan demikian cepat.
Pola Makan
Saat ini makanan untuk pertumbuhan dan perkambangan anak begitu beragam. Jauh berbeda dengan generasi kita dulu. Susu untuk anak saja sudah dibedakan menurut usianya. Komposisi gizinya sudah jauh lebih baik dibandingkan jaman dulu. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap perkambangan struktur syaraf-syarafnya termasuk syaraf otaknya. Tentunya hal ini akan sangat berpangaruh terhadap cara berpikirnya.
Budaya
Setiap generasi memiliki budaya yang berkembang. Kita lihat misalnya dari jenis musiknya tentu sangat berbeda. Jaman simbah kita dulu musiknya keroncong, jaman kita dulu musik pop, jaman sekarang hip-hop. Mau tidak mau kita harus memahami perkembangan budaya yang mempengaruhi perkembangan anak kita. Yang perlu kita perhatikan adalah sisi moralnya. Bukannya kita melarang hip-hopnya tapi kita harus perhatikan sisi moralnya, karena nilai moral itu tidak pernah berubah dari jaman ke jaman. Yang berubah adalah budayanya.
Setelah memahami hal-hal ini sudah selayaknya kita para orang tua bersyukur karena anak-anak kita telah berkembang melebihi jaman kita dulu.
Di dunia pendidikan sekaran ini telah terjadi perubahan yang sangat besar mengenai proses mendidik anak. Dulu orang menerjemahkan proses mendidik adalah membuat anak kita menjadi sesuai seperti keinginan kita. Buktinya, sering kali kita mendengar orang tua berkata : saya ingin anak saya pintar, saya ingin anak saya rajin, dan sebagainya. Konsep pendidikan yang baru telah berubah. Yang disebut mendidik itu adalah membimbing anak sesuai dengan keinginan Allah. Allah pasti telah menyiapkan misi khusus untuk anak kita ketika mereka dilahirkan. Kalau dulu tugas orang tua adalah menetapkan keinginannya supaya diikuti oleh anaknya, maka sekarang tugas orang tua itu adalah membaca tanda-tanda keinginan Allah pada diri anak kita. Pada setiap anak, tanda-tanda itu pasti berbeda-beda. Kalau kita tidak bisa membaca tanda-tanda itu, dan memaksakan keinginan kita kepada semua anak-anak kita, tentu akan menimbulkan konflik antara orang tua dan anak.
Amin Muslih (pengurus PPG Daerah Solo Utara)